Resensi Kitab Amsilatu Tashrifiyah: Menyelami Akar Ilmu Sharaf dalam Tradisi Pesantren

Oleh: Master Admin | 31 March 2026
Resensi Kitab Amsilatu Tashrifiyah: Menyelami Akar Ilmu Sharaf dalam Tradisi Pesantren
Tradisi keilmuan pesantren di Indonesia tak lepas dari peran kitab kuning sebagai sumber utama keilmuan di pondok pesantran. Di madrasah tafaqquh fiddin Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, kitab-kitab klasik menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi santri yang paham agama, beradab, dan berwawasan luas. Salah satu kitab yang sejak lama menjadi pegangan dasar di madrasah-madrasah salafiyah adalah Al-Amsilatu al-Tashrifiyah karya KH. Muhammad Ma’shum bin Ali al-Maskumambangi. Kitab ini membahas dasar-dasar ilmu sharaf (morfologi bahasa Arab), yaitu ilmu yang mempelajari perubahan bentuk kata dari satu pola ke pola lainnya. Bagi para santri, kitab ini dikenal dengan sebutan “Tashrifan Jombang”. Kitab ini selain populer di Indonesia juga populer di beberapa negara lainnya, yang menjadikannya simbol kebanggaan bagi pesantren dan daerah asal pengarangnya. Profil Kitab dan Penulis Kitab Al-Amsilatu al-Tashrifiyah (??????? ?????????) disusun oleh KH. Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi al-Maskumambangi, lahir di Desa Maskumambang, Gresik pada tahun 1305 H/1877 M. Beliau merupakan ulama besar yang berakar dari keluarga pesantren, anak pertama dari Kyai Ali dan Nyai Muhsinah, serta cucu dari pendiri Pesantren Maskumambang, Kyai Abdul Jabar. Sejak kecil, KH. Ma’shum telah menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren. Beliau belajar kepada ayahnya, kemudian kepada pamannya, KH. Faqih Maskumambang—seorang ahli falak dan ulama terkemuka. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan ke Pesantren Tebuireng dan menjadi salah satu santri generasi awal Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Kecerdasan dan keluasan ilmunya membuat KH. Ma’shum dipercaya menjadi menantu Hadratussyekh melalui pernikahannya dengan Nyai Khairiyah Hasyim. Atas perintah sang guru, beliau kemudian menimba ilmu ke Haramain (Makkah dan Madinah), berguru kepada para ulama besar seperti Syaikh Mahfudz at-Tarmasi dan Syaikh Umar Hamdan al-Mahrusi. Dalam usia yang relatif muda, beliau dikenal sebagai ulama produktif dan ilmuwan yang memadukan kedalaman ilmu agama dan ketelitian ilmu falak. Beberapa karya monumental beliau antara lain: Al-Amsilatu al-Tashrifiyah – tentang ilmu sharaf. Badi‘u al-Mitsal fi Hisabi as-Sinin wa al-Hilal – tentang ilmu falak. Ad-Durus al-Falakiyyah – sistematika ilmu hisab dan logaritma. Fathul Qadir fi ‘Ajaibi al-Maqadir – tentang ukuran dan takaran syariat. Dari karya-karya tersebut, Al-Amsilatu al-Tashrifiyah menjadi kitab paling populer dan melekat kuat dalam dunia pendidikan pesantren di Indonesia. Isi dan Gagasan Utama Kitab Kitab Al-Amsilatu al-Tashrifiyah disusun dengan metode sederhana namun sangat sistematis. Isinya menampilkan contoh-contoh perubahan kata kerja (fi’il) dari bentuk dasar (tsulatsi mujarrad) ke berbagai bentuk turunan seperti fi’il madhi, mudhari‘, amar, mashdar, isim fa‘il, dan isim maf‘ul. Contoh yang terkenal dalam kitab ini adalah dari akar kata ?????? (memukul), yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk seperti: ???????? (ia memukul), ???????? (pukullah!), ????????? (yang dipukul), dan ??????? (pukulan). Dari contoh sederhana ini, santri diajak untuk memahami pola perubahan kata dalam bahasa Arab. Inilah sebabnya kitab ini disebut Amsilatu (kumpulan contoh). KH. Ma’shum menyusun kitab ini dengan pendekatan praktis — langsung menampilkan pola dan contoh tanpa banyak teori. Dengan cara ini, santri dapat hafal dan memahami tashrif secara bertahap, sehingga ketika membaca Al-Qur’an atau hadis, mereka mampu menelusuri makna kata dengan tepat. Di balik susunannya yang sederhana, Amsilatu al-Tashrifiyah juga menyimpan nilai filosofis mendalam. Misalnya, urutan fi’il ?????? – ?????? – ?????? – ?????? – ?????? – ?????? mencerminkan perjalanan spiritual santri: Nashara (ditolong) ? santri dibantu orang tuanya; Dharaba (dipukul) ? santri dididik dengan disiplin; Fataha (dibuka) ? hatinya terbuka menerima ilmu; ‘Alima (mengetahui) ? menjadi alim; Hasuna (berbuat baik) ? memperindah akhlak; Hasiba (mengharap) ? berharap ridha Allah dan surga. Pola ini bukan kebetulan, tetapi gambaran simbolik dari perjalanan menuntut ilmu di pesantren — dari dididik dengan keras hingga mencapai kemuliaan ilmu dan akhlak. Al-Amsilatu al-Tashrifiyah adalah kitab wajib di banyak pesantren, termasuk di Madrasah Tafaqqquh Fiddin Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Susunannya yang sederhana dan sistematis menjadikannya mudah dihafal dan dipahami, terutama bagi santri pemula. Menteri Agama RI KH. Saifuddin Zuhri bahkan memberikan sambutan khusus pada edisi cetak kitab ini (25 Juni 1965), yang menandakan pengakuan resmi terhadap peran kitab ini dalam dunia pendidikan Islam Indonesia. Dalam konteks modern, kitab ini tetap relevan. Ketika teknologi dan aplikasi digital bisa menerjemahkan teks Arab secara instan, kitab ini dengan metode hafalannya yang sistematis dan contoh konkret (bukan teori panjang), kitab ini membentuk kemampuan pattern recognition — kemampuan mengenali pola bahasa, yang sejalan dengan pendekatan modern dalam linguistik dan bahkan dalam computational language learning.Dengan kata lain, kitab ini menanamkan keterampilan berpikir terstruktur dan analitis yang juga dibutuhkan dalam dunia modern, termasuk di bidang teknologi dan sains. Kyai Ma’shum Ali juga menyusun kitab ini dengan pendekatan bottom-up: santri langsung dikenalkan pada bentuk konkret kata (amtsilah) tanpa harus memahami teori panjang terlebih dahulu. Pola ini kini dikenal dalam dunia pendidikan modern sebagai “learning by pattern” atau “inductive learning” — metode yang dianggap efektif untuk memperkuat daya ingat dan pemahaman konseptual, ini menunjukkan bahwa metode pengajaran klasik pesantren sejatinya telah mengandung prinsip-prinsip active learning yang kini banyak diterapkan dalam sistem pendidikan modern. Kesimpulan Kitab Al-Amsilatu al-Tashrifiyah bukan hanya pelajaran dasar tentang gramatika Arab, tetapi juga warisan besar keilmuan pesantren yang memadukan kecermatan ilmiah dan kedalaman spiritual. Karya monumental KH. Ma’shum bin Ali ini telah melahirkan jutaan santri yang memahami bahasa Arab dari akar katanya. Di balik kesederhanaannya, kitab ini menyimpan pesan penting: bahwa menuntut ilmu harus dimulai dari dasar, dijalani dengan kesabaran, dan diakhiri dengan pengamalan. Sebagai santri dan pewaris ilmu ulama, kita patut meneladani semangat KH. Ma’shum — ulama muda yang produktif, cerdas, dan rendah hati. Beliau menunjukkan bahwa keilmuan sejati tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi juga pada keikhlasan dalam mengajarkan dan mengamalkannya. Semoga semangat beliau terus hidup di kalangan santri Madrasah Tafaqquh Fiddin Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang — sebagai penjaga warisan keilmuan Islam yang abadi. “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu.” (QS. Al-Mujadilah: 11)